Menu

Tuesday, February 18, 2014

Profil Ustadz Yusuf Mansur


Yusuf Mansyur (lahir di Jakarta, 19 Desember 1976; umur 37 tahun) adalah seorang tokoh pendakwah, penulis buku dan pengusaha dari Betawi, sekaligus pimpinan dari pondok pesantren Daarul Quran Bulak santri, Cipondoh, Tangerang dan pengajian Wisata Hati. Ia lahir dari keluarga Betawi berkecukupan pasangan Abdurrahman Mimbar dan Humrifíah dan sangat dimanja orang tuanya.
Lulusan terbaik Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat, tahun 1992 ini pernah berkuliah di jurusan informatika namun, berhenti tengah jalan karena lebih suka balapan motor.
Pada tahun 1996, Ia terjun di bisnis informatika, sayang bisnisnya malah menyebabkan ia terlilit hutang dan membuatnya masuk rumah tahanan selama 2 bulan, dan hal serupa kembali terulang pada tahun 1998. Saat di penjara itulah, ia menemukan hikmah tentang sedekah. Selepas dari penjara, ia mencoba memulai usaha dari nol lagi dengan berjualan es di terminal Kali Deres. Berkat kesabaran dan keikhlasan sedekah pula akhirnya bisnisnya mulai berkembang dari semula berjualan dengan termos, lalu gerobak sampai kemudian memiliki pegawai. Hidup Yusuf mansyur mulai berubah saat ia berkenalan dengan seorang polisi yang memperkenalkannya dengan LSM. Selama bekerja di LSM itulah, ia membuat buku Wisata Hati Mencari Tuhan Yang Hilang. Buku yang terinspirasi oleh pengalamannya sewaktu di penjara saat rindu dengan orang tua.
Tak dinyana, buku itu mendapat sambutan yang luar biasa. Yusuf mansyur sering di undang untuk bedah buku tersebut. Dari sini, undangan untuk berceramah mulai menghampirinya. Di banyak ceramahnya, ia selalu menekankan makna di balik sedekah dengan memberi contoh - contoh kisah kehidupan nyata. Gaya bicaranya yang simpel dan apa adanya saat berdakwah membuat isi ceramah mudah di cerna dan di gemari masyarakat.

Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Yusuf_Mansur

Nikmat Dzikir


Mengapa Kita Belum Bisa merasakan Nikmat dalam Berdzikir????...

Hal itu disebabkan karena hatinya masih kotor, ia belum mengikis akhlaknya yang tercela, dan belum menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.  Pada saat berdzikir hatinya dipenuhi dengan bisikan-bisikan (khowathir) dan was-was.  Ia tidak berusaha menyingkirkan semua ikatan lahiriah yang menghalanginya untuk berdzikir dengan sepenuh hati kepada Allah SWT.  Ia tidak ber-suluk[1] di bawah bimbingan seorang guru atau syeikh[2] yang memiliki ma’rifat[3], yang ahli dalam ilmu lahir dan batin.  Juga bisa karena sebab-sebab lain.

            Siapa yang tidak mampu mengatasi kekurangan-kekurangan tadi, maka hendaknya ia menyibukkan lisannya dengan dzikrullah dengan hati yang dipaksakan hadir[4] sambil menunggu dan mengharap karunia Allah.  Tidaklah mustahil Allah akan memberinya jalan keluar yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya.  Dan janganlah merasa heran jika ia tidak berhasil mengecap kenikmatan dzikir sebagaimana yang dirasakan oleh para ahli tarekat, apabila ia belum memenuhi persyaratan di atas.

(‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad, Nafaisul ‘Uluwiyyah fil Masailis Shufiyyah, cet. I, Darul Hawi, 1993/1414H, hal.54)


[1] Sulûk: jalan kearah kesempurnaan batin. Ilmu sulûk juga disebut ilmu tasawuf.  Sâlik adalah orang yang menempuh jalan menuju Allâh.

فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً

Maka ber-sulûk-lah di atas jalan-jalan Tuhanmu dengan patuh.

(An-Nahl, 16:69)

[2] Syeikh: menurut ilmu bahasa berarti orang yang telah lanjut usia.  Kemudian digunakan untuk menyebut seorang guru, pembimbing, mursyid atau pemimpin suatu kelompok.

[3] Ma’rifat: pengetahuan yang sempurna, pengetahuan Ilâhiyyah, pengetahuan yang hakiki, pengetahuan yang berasal dari Allâh.
[4] Lihat Lampiran C.
Sumber :

http://kyaijawab.com/post/158/Nikmat+Dzikir

Membacakan AlQuran Untuk Yang Telah Meninggal Dunia


Selain memintakan ampunan (beristighfar), Rasulullah saw juga mengajarkan agar kita membacakan surat dan ayat tertentu kepada saudara kita yang telah meninggal. Rasulullah saw bersabda :

“Bacakanlah surat Yasin kepada orang orang yang meninggal dunia diantara kalian” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

“Surat Yasin adalah jantung AlQuran, tidaklah seseorang membacanya karena mengharapkan(keridhaan) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan negeri akhirat, melainkan Allah mengampuninya. Dan bacakanlah Yasin kepada orang orang yang meninggal dunia diantara kalian.” 
(HR Ahmad )

Imam Thabrani dan Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa sayidina ‘Abdullah bin Umar ra, berkata :

“Aku mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda : ‘Jika salah seorang diantara kalian meninggal dunia, maka jangan tahan jenazahnya, segera bawa dia ke kuburnya dan bacakanlah surat Al-Fatihah di dekat kepalanya dan penutup surat Al-Baqarah di dekat kakinya, di makamnya’. ( HR Thabrani dan Baihaqi )

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sebelum meninggal, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a berwasiat agar setelah selesai penguburan dibacakan untuknya pembukaan dan penutupan surat Al-Baqarah, tepat disamping kepala beliau.13

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Ar-Ruh menyebutkan beberapa riwayat tentang kebiasaan para sahabat dan salaf untuk membacakan AlQUran di makam saudara mereka sesama muslim. Beliau menyebutkan bahwa Al-Khallal dalam kitab Al-Jami’ meriwayatkan bahwa Sya’bi berkata :

“Dahulu sahabat Anshar jika salah seorang diantara mereka meninggal dunia, maka mereka berulang kali mendatangi makamnya dan membacakan AlQuran di sana”14

Imam Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir meriwayatkan bahwa Abdurahman bin ‘Ala bin Lajlaj menyebutkan bahwa ayah beliau berwasiat kepada beliau sebagai berikut:

“Duhai anakku, jika aku meninggal dunia, maka buatkanlah liang lahat untukku. Ketika engkau meletakkan ku dalam liang lahat tersebut, ucapkanlah : Bismillahi wa’ala millati rasululillah. Kemudian timbunilah aku dengan tanah secara perlahan, lalu bacakanlah di dekat kepalaku pembukaan dan penutup surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw mengatakan hal itu.”15

Ar-Kharaithi dalam kitab Al-Qubur sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Qurthubi dalam kitabnya At-Tadzkirah Fi Ahwalil Mauta menyebutkan :

“Sudah menjadi kebiasaan kaum Anshar jika mereka membawa jenazah ( ke pemakaman ), maka mereka mengiringinya dengan membaca surat Al-Baqarah.”16

Berdasarkan berbagai dalil diatas dan dalil dalil lainnya, para ulama menganjurkan umat Islam untuk membacakan AlQuran di hadapan jenazah, baik sebelum maupun setelah dimakamkan. Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sahlihin berkata :

Syafi’I r.a berkata, “Dianjurkan di makam seseorang untuk dibacakan sebagian dari AlQuran dan jika mereka mengkhatamkan AlQuran secara keseluruhan, maka itu lebih bagus.”17

Ingatkah kita akan kisah dua orang yang mendapatkan siksa kubur, kemudian siksa mereka diringankan oleh Allah setelah Rasulullah saw menanamkan pelepah kurma yang masih basah di makam mereka? Coba kita simak kisah tersebut .

Abdullah bin Abbas r.a menyebutkan bahwa pada suatu hari bersama sejumlah sahabat, Rasulullah saw melewati dua buah makam. Pada saat itu Rasulullah saw bersabda :

“Kedua penghuni makam ini sesungguhnya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar (dalam pandangan mereka). Penghuni makam yang satu ini semasa hidupnya ketika buang air kecil tidak menutupi dirinya, sedangkan yang lain suka mengadu domba.”

Kemudian Rasulullah saw mengambil sepotong pelepah daun kurma yang masih basah dan membaginya menjadi dua. Setelah itu beliau menanamnya pada setiap makam. Para sahabat kemudian bertanya kepada beliau saw,

“Wahai utusan Allah, mengapa engkau melakukan hal ini ( menanam pelepah kurma di makam orang tersebut)?”

Rasulullah saw menjawab :

“Semoga Allah meringankan siksa keduanya selama kedua pelepah kurma tersebut belum kering.” 
(HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Apa rahasia dibalik penanaman pelepah kurma? Simaklah pendapat Imam Qurthubi r.a dibawah ini :

Sabda Rasulullah saw yang berbunyi, “Selama kedua pelepah kurma tersebut belum kering.” Merupakan sebuah petunjuk bahwa selama masih basah kedua pelepah kurma tersebut bertasbih kepada Allah dan jika telah kering barulah menjadi benda mati. Wallahu a’lam.

Selanjutnya Imam Qurthubi r.a berkata :

Berdasarkan hadits penanaman pelepah kurma diatas, para ulama kami berpendapat bahwa jika kedua orang tersebut diringankan siksanya karena tasbih pelepah kurma yang masih basah tersebut, lalu bagaimana kiranya pengaruh bacaan AlQuran seseorang mukmin di makam saudaranya.18

Sehubungan hadits diatas, Imam Nawawi r.a berkata :

Berdasarkan hadist (tentang pelepah kurma ini), para ulama kemudian menganjurkan seseorang untuk membaca AlQuran di sebuah makam. Sebab jika tasbih pelepah kurma dapat meringankan siksa sesorang maka, pembacaan AlQuran tentunya lebih utama. Wallahu a’lam.19

Saudaraku, jelas sudah bahwa membacakan AlQuran, doa dan dzikir untuk saudara kita yang telah meninggal bukanlah sebuah perbuatan yang mengada-ada, bukanlah sebuah bid’ah, akan tetapi sunah Rasulullah saw dan amalan yang dilakukan para sahabat serta umat Islam dari masa ke masa.

13. Lihat Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani, Syarhu Muktashari Tadzkiratil Qurthubi, Al-Haramin, Singapura-Jeddah-Indonesia, hal 25

14. Mula 'Ali Al-Qari, Maraqil Falah, Darul iman, Damaskus, 1897, juz 4, hal 180. Lihat juga Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ar-Ruh.

15. Imam Thabrani, Mu'jam Thabrani Al-Kabir, Juz 19. Hal 22.

16. Lihat Imam Qurthubi, At-Tadzkirah Fi Ahwalil Mauta.

17. Imam Nawawi, Riyadhus Sholihin, Darul Fikr, Juz 1, Hal 189.

18. Lihat Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Al-Jami'u Li Ahkamil QUran, juz 10, Darul Ihyait Turatsil Arabi, hal 267.

19. Lihat Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarhun Nawawi Ala Shahih Muslim, jilid III cetakan II Daru Ihyait Turatsil Arabi, Beirut, 1392H. hal 202

Sumber :
http://kyaijawab.com/index.php/post/222/Membacakan+AlQuran+Untuk+Yang+Telah+Meninggal+Dunia

Tahlilan Adalah Sebuah Majelis Dzikir


Setiap muslim diperintahkan untuk sebanyak mungkin berdzikir kepada Allah swt dalam segala keadaan, baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring. Sebagaimana kita ketahui, dzikir merupakan salah satu ibadah yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah dengan cepat. Sayangnya saat dimana seseorang seharusnya lebih banyak berdzikir, mereka justru lalai dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Di hadapan jenazah, di pekuburan, di masjid, saat ini yang seringkali terdengar hanyalah pembicaraan yang berkaitan dengan hal hal yang bersifat keduniawian disertai ucapan - ucapan yang tidak bermanfaat, bahkan kebanyakan orang tidak dapat memetika pelajaran dari sesosok jenazah yang telah terbujur kaku di hadapannya. Mereka justru malah memperbincangkan urusan duniawi dan tidak berdzikir kepada Allah serta tidak pula membaa AlQUran. Sesungguhnya benar kiranya Rasulullah saw yang telah bersabda : 

Kelak di akhir zaman akan muncul manusia-manusia yang mendatangi masjid-masjid dan duduk disana secara berkelompok-kelompok. Perbincangan mereka hanyalah dunia dan kecintaan kepada dunia. Janganlah kalian duduk bersama merekan, karena Allah tidak membutuhkan mereka.1


Menyaksikan hal ini, maka para ulama terdahulu segera menyusun sebuah sistem dakwah yang luar biasa, santun namun tepat sasaran. Agar para petakziah tak duduk diam tanpa arti maupun berbicara yang tiada bermanfaat, mengucapkan kalimat yang tidak berpahala, maka merekapun menyelenggarakan tahlilan. Di saat seperti itulah mereka mengajak umat Islam untuk berdzikir kepada Allah dengan membaca AlQuran, tahlil, tasbih, tahmid, shalawat dan berbagai bentuk dzikir lainnya Dengan demikian, tahlilan sebenarnya adalah merupakan salah satu bentuk sebuah majelis dzikir dan majelis ilmu. Ia merupakan salah satu taman surga yang dimaksud oleh baginda Muhammad saw dalam sabdanya berikut : 


Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah disana.” Para Sahabat bertanya, “Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Halaqah-halaqah(majelis-majelis) dzikir.” (HR at-Tirmidzi).


Duhai umat manusia, sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang bertugas berkeliling. Mereka berhenti dan singgah di majelis-majelis dzikir yang ada di muka bumi. Oleh karena itu, merumputlah di taman-taman surga." Para Sahabat bertanya, "Dimanakah taman-taman surga itu ?" Beliau menjawab, "Majelis-majelis dzikir. Oleh karena itu, pergilah di pagi dan sore hari dalam dzikrullah." (Al-Hakim dan Bazzar)


Dalam hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim, ketika para malaikat yang bertugas mencari majelis dzikir kembali kepada Allah dan ditnya oleh Allah, "Dari manakah kalian?" Maka para malaikat menjawab :


Kami datang dari sisi hamba-hambaMu yang terdapat di bumi. Mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, memuliakanMu, dan memohon ampun kepadaMu. " (HR Muslim)


Kumpulan orang orang yang bertasbih, bertakbir, bertahlil inilah yang dicari dan didatangi oleh para malaikat. Suasana dzikir sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits di atas, merupakan suasana yang akan kita temukan di dalam majelis tahlilan. Sayangnya, kemudian ada segelintir orang yang tidak suka dengan upaya menghidupkan sunah Rasululah saw dan para sahabat ini. Dengan berbagai cara dan menggunakan bermacam dalil, mereka berusaha mengelabui umat Islam dan menyatakan bahwa Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mendoakan orang orang yang sudah meninggal dunia dan tahlilan adalah sebuah bid'ah yang sesat dan menyesatkan. Tentunya semua tuduhan tersebut adalah tidak benar dan hanya berdasarkan prasangka belaka.


1. Lihat Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Al Jami'u Li Ahkamil Quran, juz 12, Darul Ihyait Turatsil, hal 277


Sumber :
http://kyaijawab.com/index.php/post/218/Tahlilan+Adalah+Sebuah+Majelis+Dzikir

Monday, December 30, 2013

Secangkir Kopi Hikmah





HARGA RP. 60.000;- (Belum termasuk ONGKIR)
CALL / SMS : 0813 1559 1353 / 0877 8155 4611
PIN BB : 25C2B143

Secangkir Kopi Hikmah

Secangkir Kopi Hikmah Isi Hidup dengan Tetesan Ilmu Para Wali Banyak waktu yang terbuang tanpa hikmah dan ilmu yang kita pelajari. Buku ini hadir sebagai teman ngobrol di kala senggang, saat kumpul bersama keluarga atau teman. Di dalamnya telah terhimpun berbagai mutiara hikmah yang tercatat selama perjalanan menuntut ilmu sang Habib. Buku ini hadir menyegarkan hati, mengajak kita untuk lebih menyelami keindahan ilmu yang berada dalam dada para wali. Seperti judulnya, secangkir kopi hikmah, buku ini insyaAllah akan mengahpus kantuk pembacanya dan menjadikannya bersemangat untuk menjalani hidup dengan pengabdian kepada illahi.

Jurus-Jurus Takwa



HARGA RP. 60.000;- (Belum termasuk ONGKIR)
CALL / SMS : 0813 1559 1353 / 0877 8155 4611
PIN BB : 25C2B143

Jurus Jurus Takwa

Pusing, sebuah kata yang sering diucapkan manusia ketika terbentur masalah. Apalagi ketika masalah demi masalah datang dan tiada solusi yang dicapai. Sebenarnya manusia tidak perlu pusing, sebab untuk setiap masalah yang dihadapi, telah  Allah sediakan jalan keluar yang mudah, jika ia mau menggunakan jurus jurus takwa.

Dalam buku ini kita akan menemukan beragam jurus takwa yang akan mendatangkan jalan keluar bagi semua permasalahan kita. Kuncinya “Amalkan dan Yakinlah” dan jangan berkata, “ Akan saya coba..”

Adab Nabi



HARGA RP. 40.000;- (Belum termasuk ONGKIR)
CALL / SMS : 0813 1559 1353 / 0877 8155 4611
PIN BB : 25C2B143

Adab Nabi
Buku ini mengajarkan kepada kita untuk menjalani hari-hari kita dengan mencontoh cara hidup baginda Muhammad saw. Kita pun akan semakin mengerti bahwa hidup sesuai sunnah adalah sangat indah dan itulah kehidupan yang sebenarnya. Dalam buku ini diajarkan bagaimana cara bangun tidur, berpakaian, berbicara, makan, minum, bertetangga, dan berbagai adab keseharian lainnya. Karenanya ia cocok untuk semua umur dan semua kalangan. Setiap Muslim harus memiliki buku ini sebagai panduan untuk menjalani kehidupan sehari-hari